Selasa, 06 Maret 2012

MENYELAMATKAN LINGKUNGAN DENGAN NATA DECACAO

Perkebunan kakao bisa menambah pendapatan dengan menyelenggarakan agrowisata, seperti perkebunan teh yang menawarkan acara Tea Walk bagi masyarakat di luar   perkebunan. Sudah sejak lama, perkebunan teh yang menyelenggarakan agrowisata semacam itu meraih sukses besar. Udara segar di kebun teh membuat para wisatawan benar-benar betah menikmati selingan hidup di lingkungan hijau yang segar, setelah berhari­ hari super sibuk  di  tempat  kerja yang  membosankan, dengan segala kesemrawutan lalu lintas kota sumpek.

Apakah perkebunan kakao bisa  menyelenggarakan agrowisata seperti itu, yang letaknya juga di lereng-lereng gunung seperti kebun­kebun  teh? Bisa, kalau dibenahi dulu!
Di Jawa  ada  sejumlah  perkebunan kakao yang  potensial menawarkan  lingkungan kebunnya sebagai  objek agrowisata.  Misalnya, perkebunan   Jatironggo, Getas, dan  Kedondong di Jawa Tengah, dan perkebunan Pasirmuncang dan Siluwok-Sawangan di Jawa Barat.

Mengapa  perlu  dibenahi? Soalnya, sering tercium bau kurang sedap di perkebunan itu. Bau berasal dari lendir biji kakao yang sedang  di fermentasikan. Lendir yang dihasilkan oleh biji kakao sebanyak satu ton bisa mencapai 101 dalam semalam dan baunya tidak ketolongan. Sialnya, oleh perkebunan yang tidak peduli lingkungan, cairan ini dibiarkan  begitu saja.  Kalaupun ada yang  membuangnya, cuma dibuang  ke selokan yang  menuju ke saluran  pembuangan  dalam perkebunan  itu  juga.
Sejumlah  peneliti di  Pusat  Penelitian  Bioteknologi Perkebunan, beberapa  waktu yang lalu berhasil mencarikan jalan keluar. Cairan yang keluar dari peti fermentasi biji kakao itu ditampung dengan lembaran  plastik yang dibentangkan dan dibentuk menjadi semacam kolam di  kolong deretan  peti fermentasi. Cairan  yang  tertampung bukannya dibuang  ke selokan yang  menuju ke saluran pembuangan dalam  perkebunan (kalau begitu caranya,  pencemaran  lingkungan cuma dipindah tempat saja), tetapi diolah menjadi nata.

Mencontoh perlakuan  serupa terhadap air kelapa dan limbah tahu yang diolah menjadi nata de coco dan nata de tahu, maka nata de cacao hasil limbah perkebunan  kakao bisa dicoba.
Cairan itu disaring dulu dengan kain bersih, lalu air saringannya diencerkan dengan air bersih, sehingga warna yang semula kuning kecoklatan menjadi putih bersih. Air ini direbus sampai mendidih dan dibiarkan selama  lima menit.
Diperlukan gula  50 gil agar  bakteri pembentuk  nata bisa tumbuh. Lalu perlu ditambahkan urea 1.5 gil dan  kaliumdihidrogenfosfat dan magnesiumsulfat. masing-masing 1  gil.
Setelah didinginkan, ke dalamnya dimasukkan cairan bibit bakteri Acetobacter xylinum seperti yang dipakai untuk membuat nata de coco itu, sebanyak 150 cell air saringan lendir kakao. Sesudah  14 hari, hasilnya berupa nata bisa dipanen.

Dengan  ini ada tiga  hasil  yang  diperoleh. Lingkungan  perkebunan bebas bau dan segar kembali,  nata  de cacao bisa dijual sebagai  penghasilan  tambahan (dijual lewat  toko koperasi dan pengusaha kecil),  dan  lingkungan bisa dijual sebagai  objek agro wisata  (lewat biro-biro  wisata)  di kota-kota nasional dan internasional. (Khairul Amri)

Sumber: Intisari Agustus 1998 – Halaman Hijau – hal.126-127.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar